LS-IT Mahasiswa Profesi Bidan FKIK Unismuh Makassar: Menguatkan Keilmuan, Etika, dan Kesiapan Profesional

Makassar, 29 September 2026 — Memasuki dunia profesi tidak cukup hanya dengan menguasai keterampilan klinis. Seorang bidan juga dituntut memiliki fondasi keilmuan yang kuat, memahami etika profesi, mampu bekerja dalam tim, serta memiliki kesiapan menghadapi dinamika pelayanan kesehatan.

Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan Learning Skill & Teknologi Informasi (LS-IT) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar yang dilaksanakan pada 28–29 September 2026.

Kegiatan LS-IT dirancang sebagai ruang pembekalan bagi mahasiswa untuk memahami lingkungan akademik, profesi, dan organisasi sebelum menjalani proses pendidikan profesi bidan secara lebih intensif. Rangkaian kegiatan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh nilai-nilai etika, kemahasiswaan, keselamatan pasien, hingga kolaborasi antarprofesi.

Dari Etika hingga Kesiapan Menghadapi Kegawatdaruratan

Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan terjemahannya, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah Sang Surya, serta sambutan oleh Dekan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. Dr. dr. Suryani As’Ad, M.Sc., Sp.GK., Subsp.KM.

Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai administrasi keuangan yang berkaitan dengan pembelajaran mahasiswa FKIK Unismuh Makassar serta materi petak kegawatdaruratan kebidanan yang menjadi salah satu kompetensi penting dalam pendidikan profesi bidan.

Sesi berikutnya membawa mahasiswa pada pembahasan etika mahasiswa FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar dan dilanjutkan dengan pengisian KRS secara online.

Memasuki hari kedua, mahasiswa memperoleh materi mengenai peraturan dan panduan akademik FKIK Unismuh Makassar, peran mahasiswa serta arah lembaga kemahasiswaan, serta pembahasan mengenai bagaimana mahasiswa dapat menjadi tenaga kesehatan yang Islami dan berkemajuan.

Aspek keselamatan juga mendapat perhatian melalui materi K3, student safety, dan patient safety. Materi ini menjadi penting karena mahasiswa profesi tidak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan, tetapi juga memahami bahwa keselamatan pasien, keselamatan mahasiswa, dan keselamatan tenaga kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik profesional.

Membangun Bidan yang Islami dan Berkemajuan

Dekan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar menekankan bahwa pendidikan profesi bukan sekadar tahap untuk mendapatkan gelar atau menyelesaikan pendidikan, melainkan proses pembentukan karakter dan tanggung jawab profesional.

“Mahasiswa profesi bidan harus memandang pendidikan profesi sebagai proses untuk membentuk pribadi yang memiliki kompetensi, integritas, etika, dan kepedulian terhadap masyarakat. Kompetensi klinis harus berjalan seiring dengan nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan semangat berkemajuan,” demikian pesan Dekan FKIK Unismuh Makassar, Prof. Dr. dr. Suryani As’Ad.

Menurutnya, tenaga kesehatan yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya mereka yang terampil secara teknis, tetapi juga mampu memberikan pelayanan dengan empati, menghargai martabat pasien, serta menjunjung keselamatan dalam setiap tindakan.

“Bidan adalah profesi yang sangat dekat dengan perempuan, bayi, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu membangun karakter profesional sejak berada di bangku pendidikan. Jadilah tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan membawa nilai-nilai Muhammadiyah dalam setiap pengabdian,” lanjutnya.

Kaprodi: Profesi Bidan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Keterampilan Klinis

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Profesi Bidan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar, Bdn. Daswati, S.SiT., M.Keb, menyampaikan bahwa LS-IT menjadi momentum penting untuk mempersiapkan mahasiswa sebelum memasuki tahapan pendidikan profesi.

“LS-IT bukan hanya kegiatan orientasi. Ini adalah proses awal untuk membantu mahasiswa memahami bagaimana mereka harus belajar, bersikap, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan bertanggung jawab sebagai calon bidan profesional,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa profesi akan berhadapan dengan situasi pelayanan yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang tepat.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa menjadi bidan tidak cukup hanya ‘bisa melakukan tindakan’. Mahasiswa harus mampu memahami alasan di balik setiap tindakan, berkomunikasi dengan pasien dan keluarga, bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain, menjaga keselamatan pasien, serta tetap berpegang pada etika profesi dan nilai-nilai Islam,” jelasnya.

Menyiapkan Generasi Bidan yang Mampu Berkolaborasi

Salah satu sesi pada hari kedua juga menghadirkan materi “From Learning Together to Working Together: Implementasi Interprofessional Education dalam Membangun Kolaborasi Tenaga Kesehatan.”

Materi ini menjadi relevan dengan tuntutan pelayanan kesehatan saat ini yang semakin membutuhkan kerja sama lintas profesi. Mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya komunikasi, koordinasi, pembagian peran, serta penghargaan terhadap kompetensi profesi lain dalam memberikan pelayanan yang aman dan berpusat pada pasien.

Melalui LS-IT, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana menjadi pembelajar sepanjang hayat dan calon tenaga kesehatan yang mampu bekerja bersama profesi lain.

Rangkaian kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Program Studi Pendidikan Profesi Bidan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan profesional, berkarakter Islami, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan bekal tersebut, perjalanan mahasiswa menuju dunia profesi diharapkan tidak berhenti pada pencapaian kompetensi, tetapi berkembang menjadi proses membangun bidan yang berintegritas, humanis, profesional, berkemajuan, dan siap memberikan pelayanan terbaik bagi perempuan, bayi, keluarga, dan masyarakat.

Bagikan :