ALUMNI


Langit-langit aula itu tinggi dan dingin. Lampu kristal memantulkan cahaya putih ke lantai marmer yang mengilap. Derap langkah sepatu terdengar teratur, nyaris serempak, memantul pelan di ruang besar yang dipenuhi kursi berbalut kain cokelat. Delapan perempuan berdiri berjajar, mengenakan setelan hitam, kerudung putih, dan selempang biru yang menjuntai di dada. Di selempang itu tertulis nama mereka—dan satu identitas baru yang baru saja disematkan: Bidan.
Tidak ada teriakan. Tidak ada tepuk tangan berlebihan. Yang ada hanya senyum yang ditahan, punggung yang ditegakkan, dan mata yang sesekali berkaca-kaca. Inilah momen yang tidak akan terulang: angkatan pertama Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar.
“Rasanya seperti berdiri di tepi pantai sebelum ombak besar datang,” ujar Bdn. Daswati, S.SiT., M.Keb., lirih, seusai acara. Suaranya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar lega.
Daswati bukan hanya lulusan. Ia adalah Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan. Di barisan itu, ia berdiri sebagai mahasiswa sekaligus pengelola program. Peran ganda yang tidak banyak dimiliki orang. “Kami mengajar, lalu kami duduk kembali sebagai pembelajar,” katanya sambil tersenyum tipis. “Itu pengalaman yang merendahkan ego sekaligus menguatkan keyakinan.”
Di sebelahnya, Bdn. Fitria, S.ST., M.Keb., Sekretaris Program Studi Sarjana Kebidanan, merapikan selempangnya yang sedikit miring. Gesturnya sederhana, tapi wajahnya memancarkan kepuasan yang lama dipendam. “Tidak mudah,” ujarnya tanpa bertele-tele. “Menjalani peran sebagai dosen, pengelola, sekaligus mahasiswa profesi membutuhkan disiplin dan keikhlasan.”
Mereka bukan sekadar lulusan pertama. Mereka adalah penanda awal—titik nol dari sebuah perjalanan akademik yang panjang dan penuh taruhan. Pendidikan Profesi Bidan bukan sekadar tambahan gelar. Ia adalah jembatan resmi menuju praktik profesional yang diakui negara, sekaligus respons atas tuntutan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak yang semakin kompleks.
Sejarahnya tidak lahir tiba-tiba. Pendidikan profesi bidan di Indonesia adalah hasil dari perjalanan panjang regulasi, tuntutan global, dan kebutuhan lokal. Dunia kebidanan tidak lagi cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis. Ia menuntut keputusan klinis, etika profesi, komunikasi lintas budaya, dan kepemimpinan di lapangan.
Seorang pakar pendidikan kebidanan yang terlibat dalam pengembangan kurikulum—yang namanya disebut dalam dokumen internal fakultas—pernah menyebut bahwa profesi bidan berada di “wilayah paling sunyi dari sistem kesehatan”: dekat dengan masyarakat, tapi sering jauh dari sorotan kebijakan. Karena itu, pendidikan profesi menjadi krusial. Ia menutup celah antara teori dan praktik.
Menurut catatan fakultas, pembukaan Pendidikan Profesi Bidan di Universitas Muhammadiyah Makassar melalui proses panjang: penyiapan kurikulum, penyesuaian standar nasional, kerja sama lahan praktik, hingga pemenuhan sumber daya manusia. Tidak semua kampus berani memulainya lebih awal. “Risikonya besar,” kata seorang pengelola fakultas, yang menjelaskan bahwa angkatan pertama selalu menjadi uji ketahanan sistem.
Angkatan ini menanggung beban itu.
Di antara delapan perempuan itu, sebagian adalah dosen, sebagian lainnya praktisi. Usia mereka tidak seragam. Pengalaman mereka beragam. Namun satu hal menyatukan: kesadaran bahwa mereka sedang menapaki jalur yang belum sepenuhnya rata.
“Kadang kami merasa seperti sedang membangun jalan sambil berjalan,” kata Bdn. Lilis, salah satu alumni, sambil tertawa kecil. “Belum ada kakak tingkat. Belum ada cerita senior. Semua kami alami sendiri.”
Pendidikan profesi menuntut ritme yang berbeda. Jam praktik panjang. Tuntutan kompetensi ketat. Evaluasi berlapis. Ada hari-hari ketika kelelahan terasa sampai ke tulang. “Pernah ada momen ingin menyerah,” aku Bdn. Suniarti, alumni lainnya. “Tapi kami saling menguatkan. Kami tahu, jika kami gagal, yang dipertanyakan bukan hanya kami, tapi program ini.”
Kutipan itu bukan hiperbola. Dalam dunia pendidikan profesi, angkatan pertama sering kali menjadi cermin kualitas. Keberhasilan atau kegagalan mereka akan menentukan kepercayaan publik.
Seorang dosen pembimbing klinik—dalam keterangannya—menilai bahwa angkatan ini menunjukkan adaptasi cepat. Ia menyebut para mahasiswa profesi ini memiliki keunggulan refleksi diri dan etos belajar yang kuat. Penilaian itu tercatat dalam laporan evaluasi internal, yang menjadi dasar pengembangan angkatan berikutnya.
Menariknya, kehadiran dosen sebagai mahasiswa justru mengubah dinamika kelas. Hubungan hierarkis mencair. Diskusi menjadi lebih setara. “Kami belajar untuk diam dan mendengar,” ujar Daswati. “Belajar menerima kritik sebagai mahasiswa, bukan sebagai pimpinan.”
Di ruang praktik, status jabatan ditanggalkan. Yang ada hanya kompetensi dan tanggung jawab terhadap pasien. “Di hadapan ibu bersalin, semua gelar runtuh,” kata Fitria pelan. “Yang diuji adalah ketenangan, ketepatan, dan empati.”
Pernyataan itu sejalan dengan pandangan seorang praktisi kebidanan senior di Sulawesi Selatan, yang menilai bahwa pendidikan profesi adalah ruang pembentukan karakter klinis. Ia mengatakan—dalam wawancara terpisah—bahwa bidan profesional tidak hanya lahir dari kecakapan tangan, tetapi juga dari kejernihan sikap.
Selempang biru yang dikenakan para alumni hari itu bukan sekadar atribut seremonial. Ia menjadi simbol transisi. Dari mahasiswa ke profesional. Dari ruang kelas ke ruang bersalin. Dari belajar untuk lulus, menjadi belajar untuk melayani.
“Ini bukan garis akhir,” kata Bdn. Humaira, alumni lainnya. “Justru ini garis start yang sesungguhnya.”
Kalimat itu terdengar klise, tapi diucapkan dengan kesadaran penuh. Mereka tahu, dunia praktik tidak selalu ramah. Tantangan kesehatan ibu dan anak masih besar. Angka kematian ibu, akses layanan, dan kesenjangan wilayah adalah pekerjaan rumah yang menunggu.
Namun ada optimisme yang tenang. Bukan optimisme berisik, melainkan keyakinan yang dibangun dari proses.
Menjelang sore, aula mulai lengang. Kursi-kursi kosong berderet rapi. Pantulan cahaya di lantai marmer perlahan memudar. Delapan perempuan itu berfoto bersama, berdiri dalam satu barisan—barisan pertama.
Kelak, akan ada angkatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Akan ada cerita lain, tantangan baru, dan wajah-wajah baru. Tapi sejarah selalu mencatat siapa yang datang paling awal.
Mereka adalah para bidan yang tidak hanya dilahirkan oleh sistem pendidikan, tetapi juga ikut melahirkannya.
Dan di sanalah letak maknanya.