Outing Class “Promoting Maternal Wellness”, Mahasiswa Sarjana Kebidanan Dan Pendidikan Profesi Bidan FKIK Unismuh Makassar Perdalam Strategi Deteksi Dini dan Pencegahan Kegawatdaruratan Dengan Menyelami Fitrah Birth dan Keteladanan Maryam

Makassar, 2 Oktober 2026 — Pembelajaran kebidanan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Untuk memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar melaksanakan kegiatan outing class dengan tema “Promoting Maternal Wellness: Strategi Deteksi Dini dan Pencegahan Kegawatdaruratan Kebidanan”, Jumat (2/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di TPMB Andalan’ta, Jalan Paccerakkang, Makassar, ini menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana konsep deteksi dini, promotif-preventif, serta kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan diterapkan dalam pelayanan kebidanan di tingkat praktik mandiri.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kaprodi, Sekprodi, dosen, serta mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan. Kehadiran sivitas akademika dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen program studi untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga membangun keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kesiapan mahasiswa menghadapi kondisi nyata di lapangan.

Bertindak sebagai narasumber, Bd. Hj. Andi Nani Nurcahyani, S.ST., M.Keb, selaku Owner TPMB Andalan’ta, berbagi pengalaman dan wawasan mengenai praktik pelayanan kebidanan, khususnya dalam upaya menjaga kesehatan maternal sekaligus mengenali tanda dan gejala yang berpotensi berkembang menjadi kegawatdaruratan.

Dalam pemaparannya, Bd. Hj. Andi Nani menekankan bahwa kemampuan bidan dalam mendeteksi perubahan kondisi ibu sejak dini merupakan bagian penting dari keselamatan maternal.

“Bidan tidak cukup hanya mampu memberikan asuhan ketika masalah sudah terjadi. Bidan harus mampu mengenali sejak awal perubahan kondisi ibu, memahami faktor risikonya, melakukan pemantauan secara sistematis, dan menentukan kapan harus bertindak maupun merujuk. Deteksi dini adalah bagian dari upaya mencegah kondisi yang lebih berat.”

Menguatkan Perspektif Fitrah Birth dan Keteladanan Maryam

Menariknya, pembelajaran dalam outing class juga dikaitkan dengan perspektif fitrah birth, yaitu pemahaman bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan bagian dari proses fisiologis yang secara alami dimiliki tubuh perempuan, sehingga asuhan kebidanan perlu mendukung kemampuan alami tersebut selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan.

Perspektif ini tidak dimaknai sebagai mengabaikan intervensi medis. Sebaliknya, mahasiswa diajak memahami bahwa menghormati proses fisiologis harus berjalan berdampingan dengan kewaspadaan klinis. Bidan tetap harus mampu melakukan pemantauan, mengenali tanda bahaya, mendeteksi komplikasi, dan melakukan kolaborasi maupun rujukan secara tepat ketika diperlukan.

Pembahasan tersebut kemudian diperkaya dengan keteladanan Maryam dalam Al-Qur’an, khususnya kisah Maryam ketika menghadapi proses kelahiran sebagaimana digambarkan dalam QS. Maryam ayat 22–26. Kisah tersebut menjadi refleksi bahwa perempuan dalam proses persalinan membutuhkan dukungan, ketenangan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta lingkungan yang memberikan rasa aman.

Bagi mahasiswa kebidanan, kisah Maryam dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa asuhan maternal tidak hanya berbicara mengenai aspek fisik, tetapi juga aspek psikologis, spiritual, sosial, dan penghormatan terhadap martabat perempuan.

Nilai tersebut sejalan dengan pendekatan kebidanan yang berpusat pada perempuan (woman-centered care). Bidan tidak hanya hadir untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan, tetapi juga mendampingi perempuan, memberikan informasi yang tepat, mendengarkan kebutuhannya, menghormati pilihan yang berada dalam batas aman, serta memastikan ibu mendapatkan pertolongan ketika menghadapi risiko atau kegawatdaruratan.

Dalam konteks pendidikan kebidanan di lingkungan Muhammadiyah, penguatan perspektif tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk calon bidan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan klinis, tetapi juga memiliki nilai keislaman, empati, amanah, dan kepedulian terhadap keselamatan serta martabat perempuan.

Mahasiswa juga diajak memahami satu pesan penting dari pembahasan tersebut: persalinan fisiologis bukan berarti persalinan tanpa risiko. Karena itu, kemampuan bidan untuk menjaga keseimbangan antara mendukung proses alami dan melakukan deteksi dini terhadap kondisi patologis menjadi kompetensi yang sangat penting.

Belajar Mengambil Keputusan dari Pengalaman Praktisi

Mahasiswa kemudian diajak untuk memahami bahwa pencegahan kegawatdaruratan bukan hanya berkaitan dengan tindakan klinis, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang efektif dengan ibu dan keluarga. Edukasi, pengenalan tanda bahaya, kepatuhan terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan, serta kesiapan menghadapi kemungkinan komplikasi menjadi bagian penting dalam membangun maternal wellness.

Menurut Bd. Hj. Andi Nani, calon bidan perlu memiliki keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan data dan kondisi klinis, namun tetap berada dalam batas kewenangan dan standar pelayanan.

“Mahasiswa harus dibiasakan melihat pasien secara utuh. Jangan hanya melihat hasil pemeriksaan, tetapi dengarkan keluhan ibu, gali faktor risikonya, perhatikan kondisi fisiknya, komunikasikan dengan keluarga, dan yang paling penting tahu kapan harus segera melakukan kolaborasi atau rujukan.”

Kegiatan outing class ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati secara langsung lingkungan pelayanan di TPMB Andalan’ta serta berdiskusi mengenai berbagai situasi yang dapat ditemukan dalam pelayanan kebidanan. Interaksi dua arah antara mahasiswa dan narasumber membuat kegiatan berlangsung lebih dinamis, karena mahasiswa dapat menghubungkan materi perkuliahan dengan pengalaman nyata seorang praktisi kebidanan.

Kaprodi Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan menyampaikan bahwa kegiatan outing class merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kompleksitas pelayanan kebidanan.

“Pembelajaran kebidanan harus mampu membawa mahasiswa lebih dekat dengan realitas pelayanan. Melalui outing class seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang konsep deteksi dini dan pencegahan kegawatdaruratan dari buku, tetapi juga melihat bagaimana seorang bidan menerapkan ilmu tersebut dalam praktik dan mengambil keputusan di lapangan.”

Lebih lanjut, Kaprodi menegaskan bahwa penguatan perspektif keislaman dalam pembelajaran kebidanan juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter profesional mahasiswa.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa menjadi bidan bukan hanya tentang keterampilan klinis. Ada nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan amanah yang harus hadir dalam setiap pelayanan. Kisah Maryam mengajarkan kita tentang keteguhan, proses kelahiran, dan pentingnya dukungan kepada perempuan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi refleksi bagi mahasiswa dalam memberikan asuhan yang berpusat pada perempuan dan tetap mengutamakan keselamatan ibu dan bayi.”

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk penguatan pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning, di mana mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari praktisi yang memiliki pengalaman dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada masyarakat.

Tema “Promoting Maternal Wellness” akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan fisik ibu, tetapi sebagai pendekatan yang melihat perempuan secara utuh—fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Sementara itu, perspektif fitrah birth dan refleksi keteladanan Maryam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menghormati proses alami persalinan harus berjalan bersama dengan kompetensi klinis dalam mendeteksi risiko dan mencegah kegawatdaruratan.

Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar terus mendorong mahasiswa untuk menjadi calon bidan yang kompeten, responsif, berpikir kritis, berlandaskan nilai-nilai keislaman, dan berorientasi pada keselamatan serta martabat ibu dan bayi.

Outing class di TPMB Andalan’ta akhirnya bukan sekadar kegiatan belajar di luar kelas, tetapi menjadi pengalaman yang mempertemukan ilmu, praktik, nilai keislaman, dan pengalaman profesional—bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia pelayanan kebidanan yang sesungguhnya.

Bagikan :